Kita mungkin sering
mendengar kata “hukum”, namun kata “Hukum Perikatan” masih asing ditelinga
kita. Kata ini jarang kita dengar dan kita lihat pada media social ataupun
televisi. Pada pembahasan kali ini kita akan membahas tentang Hukum Perikatan.
Hukum perikatan
Hukum perikatan adalah adalah
sebuah hubungan hukum yang terjadi didalam lapangan harta kekayaan antara dua
orang atau lebih di mana pihak yang satu berhak atas sesuatu dan pihak lain
berkewajiban atas sesuatu. Hubungan hukum dalam harta kekayaan ini merupakan
suatu akibat hukum, akibat hukum dari suatu perjanjian atau peristiwa hukum
lain yang menimbulkan perikatan.
Jika kita melihat dari
ilmu pengetahuan Hukum Perdata, pengertian perikatan adalah suatu hubungan
dalam lapangan harta kekayaan antara dua orang atau lebih dimana pihak yang
satu berhak atas sesuatu dan pihak lain berkewajiban atas sesuatu.
Di Indonesia
Sumber-sumber hukum perikatan yang ada adalah perjanjian dan undang-undang, dan
sumber dari undang-undang dapat dibagi lagi menjadi undang-undang melulu dan
undang-undang dan perbuatan manusia.
Sumber undang-undang dan perbuatan manusia
dibagi lagi menjadi perbuatan yang menurut hukum dan perbuatan yang melawan
hukum.
Dasar hukum perikatan
berdasarkan KUH Perdata terdapat tiga sumber adalah sebagai berikut:
1. Perikatan yang timbul dari persetujuan
(perjanjian)
2. Perikatan yang timbul dari undang-undang
3. Perikatan terjadi bukan perjanjian,
tetapi terjadi karena perbuatan melanggar hukum ( onrechtmatige daad ) dan
perwakilan sukarela ( zaakwaarneming )
Sumber perikatan
berdasarkan undang-undang :
1. Perikatan ( Pasal 1233 KUH Perdata ) :
Perikatan, lahir karena suatu persetujuan atau karena undang-undang. Perikatan
ditujukan untuk memberikan sesuatu, untuk berbuat sesuatu, atau untuk tidak
berbuat sesuatu.
2. Persetujuan ( Pasal 1313 KUH Perdata ) :
Suatu persetujuan adalah suatu perbuatan dimana satu orang atau lebih
mengikatkan diri terhadap satu orang lain atau lebih.
3. Undang-undang ( Pasal 1352 KUH Perdata )
: Perikatan yang lahir karena undang-undang timbul dari undang-undang atau dari
undang-undang sebagai akibat perbuatan orang.
C. Azas-azas hukum perikatan
1. ASAS KONSENSUALISME
Asas konsnsualisme
dapat disimpulkan dari Pasal 1320 ayat 1 KUHPdt.
Pasal 1320 KUHPdt :
untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan empat sarat :
(1) Sepakat mereka yang
mengikatkan dirinya
(2) Kecakapan untuk
membuat suatu perjanjian
(3) suatu hal tertentu
(4) suatu sebab yang
halal.
Pengertian kesepakatan
dilukiskan dengan sebagai pernyataan kehendak bebas yang disetujui antara
pihak-pihak ASAS-ASAS HUKUM PERIKATAN
2. ASAS PACTA SUNT
SERVANDA
Asas pacta sun servanda
berkaitan dengan akibat suatu perjanjian. Pasal 1338 ayat (1) KUHPdt:
· Perjanjian yang dibuat secara sah
berlaku sebagai undang-undang….”
· Para pihak harus menghormati
perjanjian dan melaksanakannya karena perjanjian itu merupakan kehendak bebas
para pihakASAS-ASAS HUKUM PERIKATAN
3. ASAS KEBEBASAN
BERKONTRAK
Pasal 1338 KUHPdt :
“semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undangundang bagi
mereka yang membuatnya”
Ketentuan tersebut
memberikan kebebasan parapihak untuk :
· Membuat atau tidak membuat perjanjian;
· Mengadakan perjanjian dengan siapapun;
· Menentukan isi perjanjian,
pelaksanaan, dan persyaratannya;
· Menentukan bentuk perjanjian, yaitu
tertulis atau lisan.ASAS-ASAS HUKUM PERIKATAN
Di samping ketiga asas
utama tersebut, masih terdapat beberapa asas hukum perikatan nasional, yaitu :
1. Asas kepercayaan;
2. Asas persamaan hukum;
3. Asas keseimbangan;
4. Asas kepastian hukum;
5. Asas moral;
6. Asas kepatutan;
7. Asas kebiasaan;
8. Asas perlindungan;
Tidak ada komentar:
Posting Komentar